This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Minggu, 02 Februari 2014
SYEKH MUHAMMAD NAFIS IBNU IDRIS ALBANJARI ISI RIWAYAT SINGKAT
Sekitar
pertengahan tahun 1772 M / 1180 H syeh Muhammad Arsyad Albanjari akan
mengakhiri masa belajarnya setelah menuntut berbagai cabang ilmu pengetahuan
selama kurang lebih 25 tahun di Makah Almukarramah dan 5 tahun terakhir di
Madinah Almunawarah (1742 – 1772) selanjutnya kembali ke Makah Almukarramah
sebagai persiapan untuk kembali ke Tanah air. ( Yang pada waktu itu disebut
Tanah Jawi ). Pada suatu hari jum’at pertengahan tahun tersebut, Syeh Muhammad
Arsyad Albanjari bertemu dengan salah seorang keluarga bernama Muhammad Nafis (
Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari ) didalam Masjidil haram yang sejak
30 tahun yang lalu telah terpisah. Beliau langsung saja menanyakan tentang sejak
kapan saja Syekh Muhammad Nafis berada di Makah Almukarramah, beliau menjawab,
sejak kurang lebih satu jam yang, Syekh Muhammad Arsyad Albanjari bertanya lagi
tentang dengan sarana Kapal apa saja dari Jawi ke Mekah Almukarramah ini, yang
pada waktu itu satu – satunya sarana angkutan dari Jawi ke tanah Suci hanya
dengan Kapal layar yang memerlukan waktu pelayaran antara 3 s/d 5 bulan. Syekh Muhammad
Nafis Ibnu Idris Albanjari hanya menjawabnya dengan isyarat yang pengertiannya
tidak dengan angkutan Kapal Layar. Kemudian ditanyakan lagi kapan saja kembali
ke Jawi, itupun tidak dijawabnya dengan lisan, akan tetapi dijawabnya dengan
isyarat yang pengertiannya Insyallah satu jam kemudian.
Bagi
Syekh Muhammad Arsyad Albanjari sebagai Ulama besar dan sangat A’rif cukup
mengerti, bahwa hal-hal demikian sebagai suatu keajaiban yang perlu dilakukan
penelitian lebih jauh. Pada hari jum’at berikutnya beliau bertemu lagi dengan
Syekh Muhammad Nafis Ibnu Albanjari didalam Mesjid Harum, namun tidak sempat
berkata apa-apa beliau sudah menghilang tanpa diketahui kemana arahnya.
Kemudian pada hari jum’at berikutnya lagi ( jum’at ketiga ) Syekh Muhammad
Arsyad Albanjari pada saat akan keluar dari Mesjidil Haram melalai pintu menuju
ke Syamiah langsung bertemu dengan Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari
yang sekaligus dirangkulnya dengan erat seraya berkata, saya juga tahun ini
akan kembali ke Tanah Jawi setelah kurang lebih tiga puluh tahun bermukim di
Tanah Suci, nanti di Martapura Insya Allah kita akan bertemu kembali serta ada
hal-hal yang perlu kita bicarakan lebih luas, rangkulan terhadap Syekh Muhammad
Nafis Ibnu Idris dilepaskan dan pada saat bersalaman sebagai tanda perpisahan
langsung saja Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari berkata, diharap agar
jangan sampai menemui saya setelah berada di Martapura kemudian langsung
menghilang tanpa diketahui kemana arahnya.
Setelah
musim Haji tahun 1772 M = 1186 H Syekh Muhammad Arsyad Albanjari setelah
mendapat restudari Guru-guru beliau, baik di Mekah maupun di Madinah, beliau
segera akan kembali ke Tanah Air ( Jawai ) bersama-sama dengan teman beliau,
yaitu Syekh Abdussamad Alpalimban, Syekh Abdul Wahab Bugis serta Syekh
Abdurrahman Masri asal Betawi. Beliau istirahat di Jakarta beberapa hari
bersama teman-teman beliau dan sempat memberikan petunjuk membetulkan arah
Qiblat Mesjid Jembatan Lima Jakarta tanggal 7 Mei 1172 M. Mereka berpisah di
Jakarta dan kembali ke Daerah asal mereka masingmasing. Setelah berada kembali
beberapa bulan di Martapura, beliau menanyakan keadaan Syekh Nafis Ibnu Idris Albanjari
yang pada waktu itu hanya dikenal sebagai Muhammad Nafis. Syekh Muhammad Nafis
Ibnu Idris Albanjari adalah pengarang Kitab “ ADDRUNNAFIS “ SEBAGAI Kitab ilmu
Tashauf yang terkenal berbobot berat dan terlarang bagi orang a’wam
mempelajarinya karena dikhawatirkan akan menimbulkan kesalahan pemahamannya
yang dapat menimbulkan kesesatan dibidang akidah ahlussunah waljama’ah.
Beliau
adalah kelahiran serta bertempat tinggal di wilayah Kabupaten Banjar di
Martapura dan masih satu rumpun keluarga dengan Syekh Muhammad Arsyad
Albanjari, dari segi usiapun kemungkinan besar tidak jauh perbedaannya. Sampai
saat ini belum diketemukan petunjuk-petunjuk tentang :
1. Tanggal/bulan
dan tempat kelahirannya.
2. Perkawinan
serta keturunannya.
3. Guru –
guru serta tempat belajarnya.
4. Cabang –
cabang ilmu pengetahuan apa saja yang dikuasainya selain ilmu Kalam dan ilmu Tasauf.
5. Dimana
saja beliau menyusun Naskah Kitab ADDARUNAFIS serta Naskah aslinya kepada siapa
saja beliau menyerahkannya.
Syekh
Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari meninggal dunia di Anak Desa Sampit, Desa
Bahungin ( sekarang desa Binturu ) Kecamatan Kelua. Pada masa hangat-hangatnya
perlawanan rakyat dibawah pimpinan Penghulu Rasyid terhadap Serdadu Belanda di
wilayah Tabalong dan sekitarnya, maka rakyat pendukung perjuangan Peghulu
Rasyid mengadakan pemukiman baru di anak desa yang dinamakan “ SAMPIT “ artinya
kecil, ( lokasi anak Desanya tidak terlalu luas ) mereka setiap saat siap
bertempur melawan serangan Serdadu Belanda disamping mereka juga membuka areal
persawahan dan perkebunan dalam anak Desa tersebut.
Peserta
pemukiman baru di Anak Desa SAMPIT tersebut antara lain :
-
Orang tua keluarga Gst. Musa.
-
rang tua keluarga Gst. Bakri.
-
Orang tua keluarga Gst. Muhammad.
-
Orang tua keluarga Gst. Irawan.
-
Orang tua keluarga Gst. Iwih.
-
Orang tua keluarga Gst. Haji Darmawi.
-
Orang tua keluarga Gst. Yusuf.
-
Orang tua keluarga Marjuni.
-
Orang tua keluarga Haji Sulaiman.
Setelah
selesai perang Banjar kemudian terbukanya Jalan Desa Bahungin, maka pemukiman anak
Desa Sampit tersebut secara berangsur-angsur pindah tempat tinggal ke Desa
Bahungin dan sekitarnya. Keluarga yang paling akhir meninggalkan anak Desa
Sampit ke Desa Bahungin adalah Saudara Marjuni dan Saudara H. Sulaiman yang
meriwayatkan secara singkat Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari yang
dikumpulkannya dari tahun 1945 – 1960 sebagai tahun terakhir pemukimannya di
Anak Desa Sampit. Kedua keluarga tersebut termasuk keluarga yang berada serta
dihormati oleh penduduk dan bahkan mendapat simpatik tersendiri dari para
tamu/penziarah asal Martapura, Banjarmasin Marabahan, Muara Tewi, Rantau,
Pelaihari, Kota Baru, Kandangan Barabai, Amuntai dan tidak jarang dari luar
Daerah Kalimantan Selatan yang menziarahi Makam Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris
Albanjari yang dimakamkan di Komplek Kuburan Muslim Sampit ( Desa Bahungin /
Desa Binturu istilah baru ).
Dari para
penziarah tersebut yang sepanjang bisa diingat-ingatkan sejak tahun 1945-1960
mengenai riwayat singkat Syekh Muhammad Nafis Albanjari dimaksud, kemudian
diceritakannya kembali pada kami hari Kamis tanggal 18 April 1991 dirumah
kediamannya di Desa Binturu kecamatan Kelua.
Riwayat
singkat dimaksud dibagi menjadi 2 ( dua ) fase :
-
Fase pertama ialah riwayat pertemuan Syekh
Muhammad Arsyad Albanjari dengan Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari di
dalam Masjid Makkah Almukarramah sekitar pertengahan tahun 1772 M sebanyak 3
kali pertemuan.
-
Fase kedua ialah riwayat singkat Syekh Muhammad
Nafis Ibnu Idris Albanjari melarikan diri atau menghindarkan diri dari
pertemuannya kembali dengan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari yang tadinya dia
sudah menolak atas usulan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari pada saat pertemuannya
yang ketiga di masjidil Haram.
Isi Riwayat fase kedua :
Syekh
Muhammad Arsyad Albanjari tetap memandang perlu menemui Syekh Muhammad Nafis
Ibnu Idris Albanjari untuk mendiskusikan atau bertukar pendapat mengenai
hal-hal berkenaan dengan masalah keagamaan. Didapat informasi bahwa Syekh
Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari pada waktu itu berada di Desa Astambul,
Syekh Muhammad Arsyad Albanjari ditemani oleh dua orang pembantu, tidak
diceritakan, beliau ke Astambul itu naik perahu atau berjalan kaki. Sesampainya
di Astambul, ternyata Syekh Muhammad Nafis satu hari sebelumnya sudah berangkat
menuju Rantau ( Tapin ). Perjalanan Syekh Muhammad Arsyad diteruskan menuju
Rantau, ternyata Syekh Muhammad Nafis sudah berangkat menuju Tatakan dan
bermalam.
Kemudian
perjalanan diteruskan dan sesampainya di Kandangan, ternyata Syekh Muhammad
Nafis sudah berangkat menuju Pantai Hambawang, perjalanan dilanjutkan dan
sesampainya di Pantai Hambawang ternyata Syekh Muhammad Nafis sudah berangkat
menuju Amuntai, sesampainya di Amuntai ternyata beliau sudah berangkat menuju
Kelua. Perjalanan tetap dilanjutkan dan sesampainya di Kelua ternyata Syekh
Muhammad Nafis baru saja berangkat ke Desa SAMPIT. Sementara Syekh Muhammad
Nafis berada di Kelua hanya beberapa jam, masyarakat sudah melakukan kontak
dengan tokoh-tokoh anak Desa SAMPIT antara lain dengan Gst. Musa dll. Karena
rencana akhir dari Syekh Muhammad Nafis akan istirahat di Anak Desa SAMPIT,
maka masyarakat disana menyambutnya dengan penuh anyusias. Syekh Muhammad Nafis
Ibnu Idris Albanjari langsung saja istirahat dirumah Gst. Musa serta duduk di
atas kasur,
kurang lebih 15 menit. Kemudian
datanglah rombongan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari dan langsung juga menuju
dan mau istirahat dirumah Gst. Musa, hal ini atas petunjuk dari tokoh-tokoh
masyarakat Kelua. Begitu Syekh Muhammad Arsyad Albanjari memasuki rumah Gst.
Musa dan setelah beradu pandang dengan Syekh Muhammad Nafis, pada saat itu
Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari berpulang kerahmatullah tanpa ada
kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati antara Syekh Muhammad Arsyad
Albanjari dengan Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari. Hal ini barangkali sesuai
dengan isyarat pada saat perpisahan pada pertemuan yang ketiga di Masjiddil
Haram.
Sampai
saat ini belum ada petunjuk mengenai perjalanan Syekh Muhammad Idris Albanjari
ke Wilayah Hulu Sungai sampai ke Anak Desa SAMPIT Kecamatan Kelua, apakah
dengan berjalan kaki atau naik perahu atau bertunggangan, demikian juga
mengenai hari dan tanggal serta tahun berapa persisnya kejadian itu. Demikian
Riwayat pada fase kedua Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari sebagai Ulama
Besar dan ahli di bidang Ilmu Tashauf dengan Kitabnya bernama “ ADDARUNNAFIS “.
BUKTI-BUKTI SEJARAH :
1. Sebuah
Komplek Kuburan Muslim dengan areal kurang lebih 6 berongan, disana banyak Kuburan
yang telah berusia tua dan bahkan Nissannya sebagian besarnya dalam bentuk sebelum
abad kita ini. Lokasi Kuburan Muslim tersebut di Anak Desa SAMPIT Desa Bahungin
Kecamatan Kelua.
2. Diantaranya
terdapat sebuah Kubah Kuburan Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari yang senantiasa
diziarahi oleh masyarakat dan bahkan Ulama-Ulama di Kalimantan Selatan sejak dulu
jauh sebelum Indonesia Merdeka.
Kubah
tersebut dibangun oleh H. YUSRAN, salah seorang Ulama Kubah tersebut berukuran
:
-
Panjang 2 meter
-
Lebar 1,95 meter
-
Tinggi 1,60 meter
-
Teras 70 cm.
-
Atap dari sirap
3. Terdapat
satu buah pesanggrahan tempat istirahat para penziarah yang dibangun oleh Camat
Darwin, BA pada beberapa tahun yang lalu. Sekarang bangunan tersebut nampaknya
kurang terawat dengan baik.
Pesanggrahan tersebut dibangun
dari Kayu berukuran :
-
Panjang 4 meter
-
Lebar 3 meter
-
Atap dari seng
-
Dinding/Lantai dari papan.
4. Satu buah
kitab yang dikarang oleh beliau bernama ADDARUNNAFIS dalam bahasa Melayusebanyak
38 halaman.
Catatan :
a. Pertemuan
Syekh Muhammad Arsyad Albanjari dengan Syekh Muhammad nafis Ibnu Idris
Albanjari di Makkah Almukkarramah pada pertengahan tahun 1772 = 1186 H.
b. Penyusunan
Naskah Kitab ADDARUNNAFIS sebagaimana tercantum dalam halaman pertama Kitab
tersebut ialah dalam tahun 1200 H.
c. Kemungkinan
meninggalnya Syekh Muhammad Nafis Ibnu Idris Albanjari sekitar dalam tahun 1201
H.
Senin, 28 Oktober 2013
Kopdar Blogger Banua 27 Oktober 2013
Berawal dari tweet teman di twitter yang memberi info tentang kopdar blogger Banua tanggal 27 Oktober 2013 yang bertepatan sebagai
hari Blogger Nasional saya pun tertarik untuk mengikuti acara kopdar tersebut. Saya tertarik mengikuti acara kopdar Blogger Banua tak lain dan tak bukan
*bukan sulap bukan sihir*....! Yang mana kebiasaan dulu sewaktu aktif di jejaring sosial camfrog www.camfrogerbanjarmasin.blogspot.com dulu kami
juga sering mengadakan kopdar antar sesama pengguna Camfrog di Kalimantan Selatan. Dan hal lain membuat saya tertarik mengikuti acara blogger yang mana
saya pertama nge'blog tahun 2009 dan blognya itu cuman asal buat akun,
saya tidak tau cara desain dan tata cara penggunaan blog itu... ( cuman pengantar gan )!@#$%
''Cerita Saat Kopdar''
Minggu 27 Oktober 2013. Yang mana di undangan itu waktu kopdar jam 14:00 wita. 15 menit sebelum jam 14:00 saya pun berangkat dari kost, kost saya di Banjarmasin Utara (kayu tangi ujung/alalak utara) dan tempat kopdar di taman Kamboja Banjarmasin. Saya datang ke taman Kamboja jam 13:55 wita artinya saya datang sebelum waktu yang tertara di undangan tersebut, setelah sampai di TKP saya pun kebingugan soalnya dari Blogger Banua tidak ada satu orang pun yang saya kenal, dari sudut-kesudut taman Kemboja hanya pasangan muda-mudi yang menjalin asmara yang seakan-akan taman kamboja meilik merika berdua. Jadi saya pun kebingungan apakah sudah adakah anggota blogger banua di taman Kamboja tersebut???.... *oh ternyata tidak ada pemirsahhh* itu artinya saya orang pertama datang ke taman Kamboja. ''Okelah gk papa'' saya pun mencoba me'sms salah satu dari blogger banua dan ternyata dia masih di rumah. Wow ! Padahal sudah jam 14:00. Artinya? Biasa jam karet mungkin * maklumin *
jam sudah 14:30 anggota blogger pun sudah berdatangan dan berkumpul di bawah sebuah pohon, saya cuman bisa melihat dari kejauhan dan tidak berani mendekat karena saya tidak kenal, cuman hanya menduga-duga kalau itu anggota blogger banua. 15 menit kemudian teman saya me'sms saya menanyakan keberadaan saya, dan saya pun langsung me'nelpon teman saya yang mana teman saya itu si MrBahdur juga ikut dalam acara kopdar tersebut singkat cerita saya ketemu dengan dia dan saya menemui angguta blogger yang sedang duduk-duduk dibawah pohon. Kami berdua pun ikut gabung sembari salam-salaman kenal mengenal. Gak lama berbincang di situ ''Doarrrrrrrr bunyi ban pecah!!... Isssss petir maksudnya. Itu artinya akan turun hujan gak lama kemudian emang bener-bener turun hujan kami pun bergegas untuk pindah lokasi yaitu ke tempat salah satu cape gak jauh dari taman kamboja tersebut. Kamipun kesana semua sambil duduk-duduk dan perkenalan masing-masing yang ada di sana kecuali pelayan cape :D.....
Setelah itu dilanjutkan dengan acara tukeran kado, yang mana tukeran kado itu dalam bentuk kuis antara suara binatang dan nama binatang. Sayapun kena binatang ''Buaya'' dan saya tukeran sama yang pasangannya tersebut dan saya dapat kado juga :D.... itu kado dari ''Adittya Regas'' singkat cerita kamipun pulang kerumah masing-masing ittttssss saya nge'kost sesaat sampai ke kost saya langsung membuka kado tersebut yang mana berharap isinya adalah makanan setelah di buka...... Jengggg,,jenggg,,jengggg...... Apakah isinya???? Anda tau tau????..... Ada 3 isinya yaitu : 1 sabun, kapur barus, katambat kurik idung/telingga itu... Terimakasih Dit kadonya, lumayan sabon buat malam mingguan. Prifff
Bersambung......
Minggu, 04 Agustus 2013
Asal Usul Sejarah Mudik
Dari mana kata "mudik" bermula. Bagaimana asal-
usulnya? Sesekali, menarik juga memahami sebuah
kata yang akhirnya menjadi budaya di negeri ini. Boleh
jadi, satu-satunya tradisi unik yang dilakukan hampir
seluruh orang dalam satu negara, sekaligus sebagai
fenomena mengagumkan di mata dunia. Setiap ahli punya opini sendiri tentang makna kata
"mudik". Kita akan lihat bersama beberapa pandangan
tersebut. Mudik dari Betawi? Dalam pergaulan masyarakat Betawi terdapat kata
"mudik" yang berlawanan dengan kata "milir". Bila
mudik berarti pulang, maka milir berarti pergi. Kata "milir" merupakan turunan dari "belilir" yang
berarti: pergi ke Utara. Dulu, tempat usaha banyak
berada di wilayah Utara - lihat sejarah Batavia dan
Sunda Kelapa. Karena itulah kata "mudik" bermakna:
Selatan. Pekerja Betawi pulang ke rumah atau mudik Sehubungan dengan kata ini, pendapat lain
mengungkapkan bahwa kaum urban di Sunda Kelapa
sudah ada sejak abad pertengahan. Orang-orang dari
luar Jawa mencari nafkah ke tempat ini, menetap dan
pulang kembali ke kampungnya saat hari raya Idul Fitri
tiba. Karena itulah, kata "mudik" dalam istilah Betawi juga mengartikan "menuju udik" (pulang kampung). Mudik, budaya Agraris? Ada pula pendapat mengatakan mudik merupakan
tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Mereka
sudah mengenal tradisi ini bahkan jauh sebelum
Kerajaan Majapahit berdiri. Biasanya tujuan pulang kampung untuk membersihkan
pekuburan dan doa bersama kepada dewa-dewa di
kahyangan untuk memohon keselamatan kampung
halamannya yang rutin dilakukan sekali dalam setahun. Tradisi 'nyekar' masih terlihat hingga kini. Kebiasaan
membersihkan dan berdoa bersama di pekuburan
sanak keluarga sewaktu pulang kampung masih
banyak ditemukan di daerah Jawa. Mudik ada sejak nenek moyang? Bagaimana dengan pernyataan bahwa mudik telah ada
sejak zaman nenek moyang? Beberapa ahli mengaitkan
tradisi mudik ada, karena masyarakat Indonesia
merupakan keturunan Melanesia yang berasal dari
Yunan, Cina. Sebuah kaum yang dikenal sebagai
pengembara. Mereka menyebar ke berbagai tempat untuk mencari sumber penghidupan. Pada bulan-bulan yang dianggap baik, mereka akan
mengunjungi keluarga di daerah asal. Biasanya mereka
pulang untuk melakukan ritual kepercayaan atau
keagamaan. Pada masa kerajaan Majapahit, kegiatan
mudik menjadi tradisi yang dilakukan oleh keluarga
kerajaan. Sejak masuknya Islam, mudik dilakukan menjelang Lebaran. Mudik dalam kajian bahasa Arab Untuk menguatkan akar mudik berkaitan dengan tradisi
islami, beredar pula argumen makna mudik dalam
kajian ala timur-tengah. Kata "mudik" seperti istilah arab untuk "badui" sebagai
lawan kata "hadhory". Sehingga dengan sederhana bisa
diambil kesimpulan bahwa mudik, adalah kembali ke
kampung halaman. Mudik dari akar kata “ adhoo-a” yang berarti “
yang memberikan cahaya atau menerangi”
Ini bisa dipahami dengan mudah, bahwa mereka para
pemudik itu secara khusus memberikan ‘cahaya’
atau menerangi kampung-kampung halaman mereka. Mudik dari akar kata “ Adhoo-‘a”, yang berarti “
yang menghilangkan “
Selanjutnya, mudik berasal dari bahasa arab yang
berarti : orang yang menghilangkan. Hal ini juga akan
mudah kita tangkap, bahwa mereka pemudik itu adalah
orang-orang perantauan yang dipenuhi beban perasaan kerinduan, dan kesedihan karena jauh dari orangtua,
keluarga atau kampung halamannya. Karenanya
mereka melakukan aktifitas mudik , dalam rangka
‘menghilangkan’ semua kesedihan tersebut. Mudik dari akar kata “ adzaa-qo” yang berarti “
yang merasakan atau mencicipi “
Orang yang mudik ke kampung halaman pastilah
mereka yang ingin kembali ‘merasakan dan
mencicipi’ suasana kampung tempat kelahiran. --------------- -------------- Nah, sekarang saya akan menyarikan apa yang pernah
ditulis oleh budayawan, sastrawan, guru besar Jakob
Sumardjo. Buat kamu yang belum mengenalnya dan
ingin berkenalan dengan tulisannya, coba dulu baca
yang paling populer "Olenka". Ia juga populer sebagai
kolumnis yang kerap dimuat di koran-koran nasional. Kata "mudik" mengartikan "hulu".
Pada zaman pramodern hanya dikenal komunikasi
sosial lewat sungai. Hampir semua hunian tua di
Indonesia selalu berada di tepi sungai. Karena sungai
merupakan sarana komunikasi dan transportasi yang
vital, maka dikenal adanya istilah arah hulu dan hilir, mudik dan muara. Pada waktu itu, kalau orang mengatakan mau mudik,
jelas artinya mau pergi ke hulu. Dan kalau mau ke hilir,
berarti mau ke arah muara. Orang yang menuju ke hulu
dapat berarti “naik”, “munggah”, “pulang”,
“ke hutan”, “ke kebun”, “ke bukit”, “ke
kampung”. Sedangkan orang yang menuju ke hilir dapat berarti pergi, “keluar”, “ke pasar”,
“merantau”, “kerja”. Transportasi air di Sungai Brantas, Jawa Timur Dengan demikian arah hulu lebih bermakna
“perempuan” dan hilir bermakna “lelaki”.
Perempuan adalah hulu adalah rumah adalah kampung
halaman. Lelaki adalah hilir adalah luar adalah asing,
atau rantau. Dengan pola pikir yang demikian itu, munggah dan
mudik maknanya sama, yakni kembali ke ibu, ke
kampung halaman, ke nenek moyang, ke asal adanya,
ya kembali ke fitrahnya. Begitulah kesadaran kolektif
bangsa ini sejak zaman dahulu kala, yakni tidak pernah
melupakan jati dirinya, asal usulnya, nenek moyangnya, kampung halaman tempat ia dilahirkan.
Manusia Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dalam
hubungan munggah dan mudik ini, selalu ingat asal
usulnya, indungnya, sangkan paran atau asal dan
tujuan hidup ini. Mengapa identik dengan Lebaran? Di zaman purba Indonesia ada upacara setiap tahun
yang bermakna manunggal dengan nenek moyang
sebuah komunitas. Sisa-sisa upacara demikian masih
lestari dalam bentuk bersih desa, ngalaksa, seren taun,
ngarot dan banyak lagi. Dalam upacara-upacara semacam itu dilakukan penyatuan manusia sebagai mikrokosmos dengan alam
sebagai makrokosmos dan arwah nenek moyang
berupa mitos-mitos sebagai metakosmos. Rangkaian upacaranya mulai dari mandi bersama
(bersih badan), pantang dan puasa, ziarah kubur, seni
pertunjukan yang mementaskan kisah mitologi nenek
moyang pendiri wilayah, dan akhirnya makan bersama
atau kenduri. Tempatnya bisa di tanah lapang, di balai
desa, di leuwi, di mata air, di kuburan desa. Bersih desa Dalam upacara-upacara tahunan semacam itulah seluruh penduduk kampung kumpul bersama, tua atau
muda atau kanak-kanak. Upacara menyatukan diri seluruh penduduk kampung
dengan makrokosmos dan metakosmos ini, dapat
bermakna sangkan-paran atau kembali menyatu
dengan yang asal. Mereka sedang munggah atau
mudik. Kembali ke indung asal kehidupan ini. Kembali
ke Sang Pencipta dengan seluruh warga yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Ketika agama Islam dipeluk oleh bangsa Indonesia,
maka sisa-sisa ritual primordial ini tidak dilenyapkan
karena sudah merupakan bagian dari arketip
budayanya. Kalau tidak melakukan, mereka merasa
ada yang hilang dari bagian dirinya sebagai kelompok. Padanan untuk itu adalah bulan puasa bagi umat Islam,
atau puncaknya pada hari Lebaran. Tradisi manusia
Indonesia untuk nyekar atau menebar bunga di
kuburan nenek moyang, mandi bersama di pantai atau
di sungai desa, mengirim makanan bagi sanak saudara,
yang semua itu dilakukan sebelum bulan puasa, adalah inkulturisasi Islam terhadap budaya sebelumnya.
usulnya? Sesekali, menarik juga memahami sebuah
kata yang akhirnya menjadi budaya di negeri ini. Boleh
jadi, satu-satunya tradisi unik yang dilakukan hampir
seluruh orang dalam satu negara, sekaligus sebagai
fenomena mengagumkan di mata dunia. Setiap ahli punya opini sendiri tentang makna kata
"mudik". Kita akan lihat bersama beberapa pandangan
tersebut. Mudik dari Betawi? Dalam pergaulan masyarakat Betawi terdapat kata
"mudik" yang berlawanan dengan kata "milir". Bila
mudik berarti pulang, maka milir berarti pergi. Kata "milir" merupakan turunan dari "belilir" yang
berarti: pergi ke Utara. Dulu, tempat usaha banyak
berada di wilayah Utara - lihat sejarah Batavia dan
Sunda Kelapa. Karena itulah kata "mudik" bermakna:
Selatan. Pekerja Betawi pulang ke rumah atau mudik Sehubungan dengan kata ini, pendapat lain
mengungkapkan bahwa kaum urban di Sunda Kelapa
sudah ada sejak abad pertengahan. Orang-orang dari
luar Jawa mencari nafkah ke tempat ini, menetap dan
pulang kembali ke kampungnya saat hari raya Idul Fitri
tiba. Karena itulah, kata "mudik" dalam istilah Betawi juga mengartikan "menuju udik" (pulang kampung). Mudik, budaya Agraris? Ada pula pendapat mengatakan mudik merupakan
tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Mereka
sudah mengenal tradisi ini bahkan jauh sebelum
Kerajaan Majapahit berdiri. Biasanya tujuan pulang kampung untuk membersihkan
pekuburan dan doa bersama kepada dewa-dewa di
kahyangan untuk memohon keselamatan kampung
halamannya yang rutin dilakukan sekali dalam setahun. Tradisi 'nyekar' masih terlihat hingga kini. Kebiasaan
membersihkan dan berdoa bersama di pekuburan
sanak keluarga sewaktu pulang kampung masih
banyak ditemukan di daerah Jawa. Mudik ada sejak nenek moyang? Bagaimana dengan pernyataan bahwa mudik telah ada
sejak zaman nenek moyang? Beberapa ahli mengaitkan
tradisi mudik ada, karena masyarakat Indonesia
merupakan keturunan Melanesia yang berasal dari
Yunan, Cina. Sebuah kaum yang dikenal sebagai
pengembara. Mereka menyebar ke berbagai tempat untuk mencari sumber penghidupan. Pada bulan-bulan yang dianggap baik, mereka akan
mengunjungi keluarga di daerah asal. Biasanya mereka
pulang untuk melakukan ritual kepercayaan atau
keagamaan. Pada masa kerajaan Majapahit, kegiatan
mudik menjadi tradisi yang dilakukan oleh keluarga
kerajaan. Sejak masuknya Islam, mudik dilakukan menjelang Lebaran. Mudik dalam kajian bahasa Arab Untuk menguatkan akar mudik berkaitan dengan tradisi
islami, beredar pula argumen makna mudik dalam
kajian ala timur-tengah. Kata "mudik" seperti istilah arab untuk "badui" sebagai
lawan kata "hadhory". Sehingga dengan sederhana bisa
diambil kesimpulan bahwa mudik, adalah kembali ke
kampung halaman. Mudik dari akar kata “ adhoo-a” yang berarti “
yang memberikan cahaya atau menerangi”
Ini bisa dipahami dengan mudah, bahwa mereka para
pemudik itu secara khusus memberikan ‘cahaya’
atau menerangi kampung-kampung halaman mereka. Mudik dari akar kata “ Adhoo-‘a”, yang berarti “
yang menghilangkan “
Selanjutnya, mudik berasal dari bahasa arab yang
berarti : orang yang menghilangkan. Hal ini juga akan
mudah kita tangkap, bahwa mereka pemudik itu adalah
orang-orang perantauan yang dipenuhi beban perasaan kerinduan, dan kesedihan karena jauh dari orangtua,
keluarga atau kampung halamannya. Karenanya
mereka melakukan aktifitas mudik , dalam rangka
‘menghilangkan’ semua kesedihan tersebut. Mudik dari akar kata “ adzaa-qo” yang berarti “
yang merasakan atau mencicipi “
Orang yang mudik ke kampung halaman pastilah
mereka yang ingin kembali ‘merasakan dan
mencicipi’ suasana kampung tempat kelahiran. --------------- -------------- Nah, sekarang saya akan menyarikan apa yang pernah
ditulis oleh budayawan, sastrawan, guru besar Jakob
Sumardjo. Buat kamu yang belum mengenalnya dan
ingin berkenalan dengan tulisannya, coba dulu baca
yang paling populer "Olenka". Ia juga populer sebagai
kolumnis yang kerap dimuat di koran-koran nasional. Kata "mudik" mengartikan "hulu".
Pada zaman pramodern hanya dikenal komunikasi
sosial lewat sungai. Hampir semua hunian tua di
Indonesia selalu berada di tepi sungai. Karena sungai
merupakan sarana komunikasi dan transportasi yang
vital, maka dikenal adanya istilah arah hulu dan hilir, mudik dan muara. Pada waktu itu, kalau orang mengatakan mau mudik,
jelas artinya mau pergi ke hulu. Dan kalau mau ke hilir,
berarti mau ke arah muara. Orang yang menuju ke hulu
dapat berarti “naik”, “munggah”, “pulang”,
“ke hutan”, “ke kebun”, “ke bukit”, “ke
kampung”. Sedangkan orang yang menuju ke hilir dapat berarti pergi, “keluar”, “ke pasar”,
“merantau”, “kerja”. Transportasi air di Sungai Brantas, Jawa Timur Dengan demikian arah hulu lebih bermakna
“perempuan” dan hilir bermakna “lelaki”.
Perempuan adalah hulu adalah rumah adalah kampung
halaman. Lelaki adalah hilir adalah luar adalah asing,
atau rantau. Dengan pola pikir yang demikian itu, munggah dan
mudik maknanya sama, yakni kembali ke ibu, ke
kampung halaman, ke nenek moyang, ke asal adanya,
ya kembali ke fitrahnya. Begitulah kesadaran kolektif
bangsa ini sejak zaman dahulu kala, yakni tidak pernah
melupakan jati dirinya, asal usulnya, nenek moyangnya, kampung halaman tempat ia dilahirkan.
Manusia Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dalam
hubungan munggah dan mudik ini, selalu ingat asal
usulnya, indungnya, sangkan paran atau asal dan
tujuan hidup ini. Mengapa identik dengan Lebaran? Di zaman purba Indonesia ada upacara setiap tahun
yang bermakna manunggal dengan nenek moyang
sebuah komunitas. Sisa-sisa upacara demikian masih
lestari dalam bentuk bersih desa, ngalaksa, seren taun,
ngarot dan banyak lagi. Dalam upacara-upacara semacam itu dilakukan penyatuan manusia sebagai mikrokosmos dengan alam
sebagai makrokosmos dan arwah nenek moyang
berupa mitos-mitos sebagai metakosmos. Rangkaian upacaranya mulai dari mandi bersama
(bersih badan), pantang dan puasa, ziarah kubur, seni
pertunjukan yang mementaskan kisah mitologi nenek
moyang pendiri wilayah, dan akhirnya makan bersama
atau kenduri. Tempatnya bisa di tanah lapang, di balai
desa, di leuwi, di mata air, di kuburan desa. Bersih desa Dalam upacara-upacara tahunan semacam itulah seluruh penduduk kampung kumpul bersama, tua atau
muda atau kanak-kanak. Upacara menyatukan diri seluruh penduduk kampung
dengan makrokosmos dan metakosmos ini, dapat
bermakna sangkan-paran atau kembali menyatu
dengan yang asal. Mereka sedang munggah atau
mudik. Kembali ke indung asal kehidupan ini. Kembali
ke Sang Pencipta dengan seluruh warga yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Ketika agama Islam dipeluk oleh bangsa Indonesia,
maka sisa-sisa ritual primordial ini tidak dilenyapkan
karena sudah merupakan bagian dari arketip
budayanya. Kalau tidak melakukan, mereka merasa
ada yang hilang dari bagian dirinya sebagai kelompok. Padanan untuk itu adalah bulan puasa bagi umat Islam,
atau puncaknya pada hari Lebaran. Tradisi manusia
Indonesia untuk nyekar atau menebar bunga di
kuburan nenek moyang, mandi bersama di pantai atau
di sungai desa, mengirim makanan bagi sanak saudara,
yang semua itu dilakukan sebelum bulan puasa, adalah inkulturisasi Islam terhadap budaya sebelumnya.
Selasa, 30 Juli 2013
Asal Nama Muara Uya
Nah, pada mau taukan berasal dari manakah asal nama Muara uya, kali ini saya akan menulisnya, seperti yang kita ketahui di Kecamatan Muara Uya itu sendiri ada terdapat 2 (dua) sungai besar yang bernama sungai Uwi dan suangai Ayu. Nah dari suangai tersebut memiliki muara yang sama dan menjadi 1 (satu) buah sungai besar saja, jadi bisa diambil makna dari muara kedua sungai tersebut memiliki kata ''MUARA'' . Dan dari kata ''UYA'' tersebut diambil dari kebiasaan orang-orang di deirah muara tersebut ketikan mengiyakan sesuatu dengan mengatakan ''UYA'',nah dari situ bisa kita simpulkan dari kedua kata tersebut bisa menjadi rangkaian kata ''Muara Uya''. Yang mana nama Muara Uya dipakai sampai sekarang ini dan menjadi sebuah kecamatan dan ber Kabopaten Tabalong.
Kamis, 06 Juni 2013
Monumen Kapal Selam ( Monkasel ) Surabaya

Asalamualaikum Wr.Wb. Salam sejahtera buat pengunjung wapsite saya ini, kali ini saya akan menulis tentang Monumen Kapal Selam, atau disingkat Monkasel, adalah sebuah museum kapal selam yang terdapat di Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya. Terletak di pusat kota, monumen ini sebenarnya merupakan kapal selam KRI Pasopati 410, salah satu armada Angkatan Laut Republik Indonesia buatan Uni Soviet tahun 1952. Kapal selam ini pernah dilibatkan dalam Pertempuran Laut Aru untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukanBelanda. Kapal Selam ini kemudian dibawa ke darat dan dijadikan monumen untuk memperingati keberanian pahlawan Indonesia. Monumen ini berada di Jalan Pemuda, tepat di sebelah Plasa Surabaya. Selain itu di tempat ini juga terdapat sebuah pemutaran film, dimana di tampilkan proses peperangan yang terjadi di Laut Aru.
Jika anda ingin mengunjungi tempat wisata ini anda juga akan ditemani oleh seorang pemandu lokal yang terdapat di sana Ada cerita unik dibalik hadirnya monumen Kapal Selam ini. Pada suatu malam Pak Drajat Budiyanto yang merupakan mantan KKM KRI Pasopati 410 (buatan Rusia) ini dan juga mantan KKM KRI Cakra 401 (buatan Jerman Barat), bermimpi diperintahkan oleh KSAL pada waktu itu untuk membawa kapal selam ini melayari Kali Mas.
Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Beliau ditugaskan untuk memajang kapal selam di samping Surabaya Plaza. Caranya dengan memotong kapal selam ini menjadi beberapa bagian, kemudian diangkut ke darat, dan dirangkai dan disambung kembali menjadi kapal selam yang utuh. Dan bagi anda yang ingin masuk ke Monumen kapal selam tersebut Tiket masuk ke Monkasel atau Monumen Kapal Selam adalah sebesar Rp 5000 per orang, dimana anda bisa memasuki kompleks Monkasel, masuk ke dalam kapal selam Monkasel dan menonton Video Rama mengenai sejarah Monkasel. Di dalam ruangan Monkasel Monumen kapal selam, anda bisa melihat lihat isi dalam dari KRI Pasopati yang sudah di repair namun tetap mempertahankan bentuk aslinya, anda bisa melihat ruang perwira, Ruang Bintara/ Tamtama, juga kabin kapten yang kecil sekali, Pusat Informasi Tempur, Ruang Torpedo, dan bahkan ada Periskop yang masih bisa digunakan untuk melihat Jl. Pemuda.
Ruangan ruangan kapal yang sangat kecil, akan membuat anda berpikir, apakah tentara AL kru kapal selam tidak merasa sumpek ya? Pantas saja orang yang fobia di ruang tertutup pasti gagal jadi awak kapal selam. Belum lagi ditambah ketika berpindah antar ruang harus melewati pintu berbentuk bulat yang sangat kecil dan rendah, tidak dianjurkan bagi ibu ibu atau kaum wanita memakai rok ketika memasuki kapal Monkasel, bakal ribet. Setelah puas menikmati sumpeknya ruangan kapal selam pasopati, anda bisa berpindah tempat untuk menyaksikan Video rama yang berdurasi 17 menit.
Gambaran secara garis besar, video ini menceritakan sejarah singkat armada Kapal Selam TNI AL yang berpusat di Surabaya, dimana Jumlah kapal selam yang pernah dimiliki TNI AL adalah10 buah, dimana salah satunya KRI Pasopati ini. Dihalaman luar monkasel ini terdapat kafe kafe yang menghadap Kali Mas. Namun sayang bau kalimas terkadang agak menyengat.
==============================================
Lebar: 6,30 m
Kecepatan: 18.3 knot di atas permukaan, 13,6 knot di bawah permukaan
Berat penuh: 1.300 tons
Berat kosong: 1.050 tons
Kemampuan penemuan: 8.500 mil laut
Baterai: 224 unit
Bahan Bakar: Diesel
Persenjataan: 12 Torpedo Uap Gas
Panjang: 7 m
Baling-baling: 6 lubang
Awak kapal: 63 termasuk Komandan
KRI Pasopati memiliki jumlah 7 ruangan:
Ruang untuk haluan Torpedo, dipersenjatai dengan 4 torpedo propeller, juga bertindak sebagai penyimpanan untuk torpedo
Ruang Komandan, Ruang Makan, dan Ruang Kerja. Di bawah dek adalah Ruang untuk Baterai I
Jembatan utama dan Pusat Komando. Penyimpanan Makanan di bawah dek
Ruangan Awak Kapal, Dapur, dan penyimpanan untuk Baterai II di bawah dek
Ruangan Mesin Diesel dan Terminal Mesin
Kamar Mesin Listrik
Ruangan Torpedo untuk bagian buritan. Berisi dengan 2 buah Torpedo.
Spesifikasi :
Panjang: 76,6 mLebar: 6,30 m
Kecepatan: 18.3 knot di atas permukaan, 13,6 knot di bawah permukaan
Berat penuh: 1.300 tons
Berat kosong: 1.050 tons
Kemampuan penemuan: 8.500 mil laut
Baterai: 224 unit
Bahan Bakar: Diesel
Persenjataan: 12 Torpedo Uap Gas
Panjang: 7 m
Baling-baling: 6 lubang
Awak kapal: 63 termasuk Komandan
KRI Pasopati memiliki jumlah 7 ruangan:
Ruang untuk haluan Torpedo, dipersenjatai dengan 4 torpedo propeller, juga bertindak sebagai penyimpanan untuk torpedo
Ruang Komandan, Ruang Makan, dan Ruang Kerja. Di bawah dek adalah Ruang untuk Baterai I
Jembatan utama dan Pusat Komando. Penyimpanan Makanan di bawah dek
Ruangan Awak Kapal, Dapur, dan penyimpanan untuk Baterai II di bawah dek
Ruangan Mesin Diesel dan Terminal Mesin
Kamar Mesin Listrik
Ruangan Torpedo untuk bagian buritan. Berisi dengan 2 buah Torpedo.
==============================================
Fasilitas:
Monumen Kapal Selam KRI Pasopati 410 ini memiliki fasilitas pendukung seperti Video Rama, Musik Life,Kolam Renang untuk anak-anak dan Rekreasi Air di sungai Kalimas. Sebuah Stan suvenir dan area parkir. Di dalam kompleks juga berdiri panggung besar untuk acara tertentu. Video Rama menyajikan film sinematik dan dilengkapi sistem suara stereo akan membawa imajinasi anda menyatu dengan film mengenai Kapal Selam KRI Pasopati 410 disaat menjalankan tugasnya. Sisi Sungai Kalimas adalah tempat yang bagus dan romantis bagi pasangan muda-mudi, atau sarana pendidikan bagi keluarga.
==============================================
Peta Letak Monkasel
==============================================
Sumber : - http://www.monkasel.com
- http://id.wikipedia.org/wiki/Monumen_Kapal_Selam
Mengenal Lebih Dekat Museum Sampoerna (House of Sampurna)

Selamat berkunjung ke wapsite saya yang sederhana ini ya pemirsah hehehehehe,,, Selama ini kalian mungkin sudah menganal yang namanya rokok “Sampoerna” dan “DJE...SAM..SOE!” (234). Nah, pada kesempatan kali ini saya akan menulis seputar tentang Museum Sampurna, bertepatan pada tanggal 1 Juni 2013 saya pun menggunjungi Museum yang bernama Museum Sampurna yang terletak di Taman Sampoerna No. 6, Krembangan, Pabean Cantikan, Surabaya. Museum House of Sampoerna buka pada setiap hari pada jam kerja, yaitu buka pada pukul 9.00 WIB dan tutup pada pukul 22.00 WIB. Anda tidak perlu mengeluarkan biaya untuk masuk ke dalam museum ini. Museum House of Sampoerna tidak memungut biaya sama sekali atau gratis untuk para pengunjung yang akan datang, Jadi Anda dapat berkunjung beberapa kali ke museum jika tak puas berkunjung sekali. Museum yang pernah dinobatkan sebagai salah satu museum terfavorit Indonesia berdasarkan survey yang dilakukan oleh National Geographic Traveler Indonesia pada bulan April-Mei 2011 ini memiliki beberapa area dengan fungsinya yang berbeda. Setiba saya memasuki museum tersebut aroma khas dari tembakau dan cengkeh yang memenuhi ruangan museum tersebut. Dan di sana juga kalian bisa melihat pembuatan rokok secara langsung.
Museum House of Sampoerna ini menempati bangunan kuno dua lantai yang dibangun pada tahun 1864. Area pertama museum ini merupakan kawasan yang menjelaskan cikal-bakal Sampoerna yang berisikan keterangan mengenai jenis-jenis tembakau serta peralatan-peratan yang digunakan selama proses pembuatan rokok pada zaman dulu. Selain itu, Anda pun dapat melihat beberapa lukisan dan foto yang terpampang di sana. Bagian sebelah kanan menampilkan beberapa koleksi keluarga founder Sampoerna dari properti ruang tamu, properti ruang kerja, koleksi pakaian serta berbagai foto keluarga dari masa ke masa. Untuk area yang kedua, Anda akan disuguhkan dengan suasana yang elegan dari ruangan yang dipenuhi dengan beragam foto yang berkaitan dengan sejarah perkembangan Sampoerna. Area ketiga juga menyuguhkan hal yang tidak kalah menarik dengan properti marchingband yang dilengkapi dengan musik marchingband yang khas.
Selain itu juga terdapat peralatan-peralatan pembuatan rokok jaman dulu serta peralatan percetakan bungkus rokok.Di dalam etalase, Anda juga dapat melihat beragam jenis rokok Sampoerna yang diekspor ke berbagai negara. Jika Anda lapar setelah berkeliling sempatkanlah mampir ke area yang bernama The Cafe.The Cafe ini dapat memberikan rasa nyaman karena penataan ruangan dan dekorasinya yang terlihat anggun .The Cafe menawarkan beragam jenis makanan yangdapat menggoyang lidah anda di sini terdapat paduan menu khas Indonesia, Asia, dan Eropa. Beberapa menu di The Cafe House of Sampoerna antara lain yaitu Wedang Kayu Manis (minuman hangat kayu manis, jahe, sereh, daun jeruk, dan gula jawa), Surabaya Sunrise (lemon, orange, mango concentrate, dan soda), Nasi Goreng Soka (kepiting), Asam-asam Iga, dan makanan lainnya. Selain sebagai museum, House of Sampoerna ini juga menyediakan tur keliling kota Surabaya dengan menggunakan sebuah bus.
Dalam tur ini pengunjung museum dibawa berkeliling kota Surabaya Lama yaitu Tugu Bahlawan, Balai Kota, Pecinan, Kampung Arab, dan yang lainnya tour yang diadakan House of Sampoerna ini disebut Surabaya Heritage Tour. Untuk mengikuti tour ini pengunjung hanya perlu mendaftar pada petugas tanpa dipungut bayaran atau gratis.
Perlu anda ketahui bahwa museum ini dulunya awalnya digunakan
sebagai Panti Asuhan yang dikelola oleh penguasa pada waktu itu Pada Tahun 1932, Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna membeli tempat ini, untuk tempat tinggal keluarga dan juga sebagai tempat pembuatan rokok tradisional, Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, industri rokok rumahan ini berkembang pesat menjadi sebuah Pabrik Rokok terbesar di Jawa Timur Pada tahun 2003, pada ulang tahunnya yang ke-90 bangunan induk yang terdapat pada area pabrik ini difungsikan sebagai museum tetapi di belakangnya masih di pergunakan sebagai sebagai pabrik untuk pembuatan roko.
Peta Museum Sampoerna
Dalam tur ini pengunjung museum dibawa berkeliling kota Surabaya Lama yaitu Tugu Bahlawan, Balai Kota, Pecinan, Kampung Arab, dan yang lainnya tour yang diadakan House of Sampoerna ini disebut Surabaya Heritage Tour. Untuk mengikuti tour ini pengunjung hanya perlu mendaftar pada petugas tanpa dipungut bayaran atau gratis.
Perlu anda ketahui bahwa museum ini dulunya awalnya digunakan
sebagai Panti Asuhan yang dikelola oleh penguasa pada waktu itu Pada Tahun 1932, Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna membeli tempat ini, untuk tempat tinggal keluarga dan juga sebagai tempat pembuatan rokok tradisional, Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, industri rokok rumahan ini berkembang pesat menjadi sebuah Pabrik Rokok terbesar di Jawa Timur Pada tahun 2003, pada ulang tahunnya yang ke-90 bangunan induk yang terdapat pada area pabrik ini difungsikan sebagai museum tetapi di belakangnya masih di pergunakan sebagai sebagai pabrik untuk pembuatan roko.
Peta Museum Sampoerna


11.28
Unknown










