Senin, 28 Oktober 2013

Kopdar Blogger Banua 27 Oktober 2013

Berawal dari tweet teman di twitter yang memberi info tentang kopdar blogger Banua tanggal 27 Oktober 2013 yang bertepatan sebagai hari Blogger Nasional saya pun tertarik untuk mengikuti acara kopdar tersebut. Saya tertarik mengikuti acara kopdar Blogger Banua tak lain dan tak bukan *bukan sulap bukan sihir*....! Yang mana kebiasaan dulu sewaktu aktif di jejaring sosial camfrog  www.camfrogerbanjarmasin.blogspot.com dulu kami juga sering mengadakan kopdar antar sesama pengguna Camfrog di Kalimantan Selatan. Dan hal lain membuat saya tertarik mengikuti acara blogger yang mana saya pertama nge'blog tahun 2009 dan blognya itu cuman asal buat akun, saya tidak tau cara desain dan tata cara penggunaan blog itu... ( cuman pengantar gan )!@#$%

''Cerita Saat Kopdar''

Minggu 27 Oktober 2013. Yang mana di undangan itu waktu kopdar jam 14:00 wita. 15 menit sebelum jam 14:00 saya pun berangkat dari kost, kost saya di Banjarmasin Utara (kayu tangi ujung/alalak utara) dan tempat kopdar di taman Kamboja Banjarmasin. Saya datang ke taman Kamboja jam 13:55 wita artinya saya datang sebelum waktu yang tertara di undangan tersebut, setelah sampai di TKP saya pun kebingugan soalnya dari Blogger Banua tidak ada satu orang pun yang saya kenal, dari sudut-kesudut taman Kemboja hanya pasangan muda-mudi yang menjalin asmara yang seakan-akan taman kamboja meilik merika berdua. Jadi saya pun kebingungan apakah sudah adakah anggota blogger banua di taman Kamboja tersebut???.... *oh ternyata tidak ada pemirsahhh* itu artinya saya orang pertama datang ke taman Kamboja. ''Okelah gk papa'' saya pun mencoba me'sms salah satu dari blogger banua dan ternyata dia masih di rumah. Wow ! Padahal sudah jam 14:00. Artinya? Biasa jam karet mungkin * maklumin *
jam sudah 14:30 anggota blogger pun sudah berdatangan dan berkumpul di bawah sebuah pohon, saya cuman bisa melihat dari kejauhan dan tidak berani mendekat karena saya tidak kenal, cuman hanya menduga-duga kalau itu anggota blogger banua. 15 menit kemudian teman saya me'sms saya menanyakan keberadaan saya, dan saya pun langsung me'nelpon teman saya yang mana teman saya itu si MrBahdur juga ikut dalam acara kopdar tersebut singkat cerita saya ketemu dengan dia dan saya menemui angguta blogger yang sedang duduk-duduk dibawah pohon. Kami berdua pun ikut gabung sembari salam-salaman kenal mengenal. Gak lama berbincang di situ ''Doarrrrrrrr bunyi ban pecah!!... Isssss petir maksudnya. Itu artinya akan turun hujan gak lama kemudian emang bener-bener turun hujan kami pun bergegas untuk pindah lokasi yaitu ke tempat salah satu cape gak jauh dari taman kamboja tersebut. Kamipun kesana semua sambil duduk-duduk dan perkenalan masing-masing yang ada di sana kecuali pelayan cape :D.....
Setelah itu dilanjutkan dengan acara tukeran kado, yang mana tukeran kado itu dalam bentuk kuis antara suara binatang dan nama binatang. Sayapun kena binatang ''Buaya'' dan saya tukeran sama yang pasangannya tersebut dan saya dapat kado juga :D.... itu kado dari ''Adittya Regas'' singkat cerita kamipun pulang kerumah masing-masing ittttssss saya nge'kost sesaat sampai ke kost saya langsung membuka kado tersebut yang mana berharap isinya adalah makanan setelah di buka...... Jengggg,,jenggg,,jengggg...... Apakah isinya???? Anda tau tau????..... Ada 3 isinya yaitu : 1 sabun, kapur barus, katambat kurik idung/telingga itu... Terimakasih Dit kadonya, lumayan sabon buat malam mingguan. Prifff  
Bersambung......

Minggu, 04 Agustus 2013

Asal Usul Sejarah Mudik

Dari mana kata "mudik" bermula. Bagaimana asal-
usulnya? Sesekali, menarik juga memahami sebuah
kata yang akhirnya menjadi budaya di negeri ini. Boleh
jadi, satu-satunya tradisi unik yang dilakukan hampir
seluruh orang dalam satu negara, sekaligus sebagai
fenomena mengagumkan di mata dunia. Setiap ahli punya opini sendiri tentang makna kata
"mudik". Kita akan lihat bersama beberapa pandangan
tersebut. Mudik dari Betawi? Dalam pergaulan masyarakat Betawi terdapat kata
"mudik" yang berlawanan dengan kata "milir". Bila
mudik berarti pulang, maka milir berarti pergi. Kata "milir" merupakan turunan dari "belilir" yang
berarti: pergi ke Utara. Dulu, tempat usaha banyak
berada di wilayah Utara - lihat sejarah Batavia dan
Sunda Kelapa. Karena itulah kata "mudik" bermakna:
Selatan. Pekerja Betawi pulang ke rumah atau mudik Sehubungan dengan kata ini, pendapat lain
mengungkapkan bahwa kaum urban di Sunda Kelapa
sudah ada sejak abad pertengahan. Orang-orang dari
luar Jawa mencari nafkah ke tempat ini, menetap dan
pulang kembali ke kampungnya saat hari raya Idul Fitri
tiba. Karena itulah, kata "mudik" dalam istilah Betawi juga mengartikan "menuju udik" (pulang kampung). Mudik, budaya Agraris? Ada pula pendapat mengatakan mudik merupakan
tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Mereka
sudah mengenal tradisi ini bahkan jauh sebelum
Kerajaan Majapahit berdiri. Biasanya tujuan pulang kampung untuk membersihkan
pekuburan dan doa bersama kepada dewa-dewa di
kahyangan untuk memohon keselamatan kampung
halamannya yang rutin dilakukan sekali dalam setahun. Tradisi 'nyekar' masih terlihat hingga kini. Kebiasaan
membersihkan dan berdoa bersama di pekuburan
sanak keluarga sewaktu pulang kampung masih
banyak ditemukan di daerah Jawa. Mudik ada sejak nenek moyang? Bagaimana dengan pernyataan bahwa mudik telah ada
sejak zaman nenek moyang? Beberapa ahli mengaitkan
tradisi mudik ada, karena masyarakat Indonesia
merupakan keturunan Melanesia yang berasal dari
Yunan, Cina. Sebuah kaum yang dikenal sebagai
pengembara. Mereka menyebar ke berbagai tempat untuk mencari sumber penghidupan. Pada bulan-bulan yang dianggap baik, mereka akan
mengunjungi keluarga di daerah asal. Biasanya mereka
pulang untuk melakukan ritual kepercayaan atau
keagamaan. Pada masa kerajaan Majapahit, kegiatan
mudik menjadi tradisi yang dilakukan oleh keluarga
kerajaan. Sejak masuknya Islam, mudik dilakukan menjelang Lebaran. Mudik dalam kajian bahasa Arab Untuk menguatkan akar mudik berkaitan dengan tradisi
islami, beredar pula argumen makna mudik dalam
kajian ala timur-tengah. Kata "mudik" seperti istilah arab untuk "badui" sebagai
lawan kata "hadhory". Sehingga dengan sederhana bisa
diambil kesimpulan bahwa mudik, adalah kembali ke
kampung halaman. Mudik dari akar kata “ adhoo-a” yang berarti “
yang memberikan cahaya atau menerangi”
Ini bisa dipahami dengan mudah, bahwa mereka para
pemudik itu secara khusus memberikan ‘cahaya’
atau menerangi kampung-kampung halaman mereka. Mudik dari akar kata “ Adhoo-‘a”, yang berarti “
yang menghilangkan “
Selanjutnya, mudik berasal dari bahasa arab yang
berarti : orang yang menghilangkan. Hal ini juga akan
mudah kita tangkap, bahwa mereka pemudik itu adalah
orang-orang perantauan yang dipenuhi beban perasaan kerinduan, dan kesedihan karena jauh dari orangtua,
keluarga atau kampung halamannya. Karenanya
mereka melakukan aktifitas mudik , dalam rangka
‘menghilangkan’ semua kesedihan tersebut. Mudik dari akar kata “ adzaa-qo” yang berarti “
yang merasakan atau mencicipi “
Orang yang mudik ke kampung halaman pastilah
mereka yang ingin kembali ‘merasakan dan
mencicipi’ suasana kampung tempat kelahiran. --------------- -------------- Nah, sekarang saya akan menyarikan apa yang pernah
ditulis oleh budayawan, sastrawan, guru besar Jakob
Sumardjo. Buat kamu yang belum mengenalnya dan
ingin berkenalan dengan tulisannya, coba dulu baca
yang paling populer "Olenka". Ia juga populer sebagai
kolumnis yang kerap dimuat di koran-koran nasional. Kata "mudik" mengartikan "hulu".
Pada zaman pramodern hanya dikenal komunikasi
sosial lewat sungai. Hampir semua hunian tua di
Indonesia selalu berada di tepi sungai. Karena sungai
merupakan sarana komunikasi dan transportasi yang
vital, maka dikenal adanya istilah arah hulu dan hilir, mudik dan muara. Pada waktu itu, kalau orang mengatakan mau mudik,
jelas artinya mau pergi ke hulu. Dan kalau mau ke hilir,
berarti mau ke arah muara. Orang yang menuju ke hulu
dapat berarti “naik”, “munggah”, “pulang”,
“ke hutan”, “ke kebun”, “ke bukit”, “ke
kampung”. Sedangkan orang yang menuju ke hilir dapat berarti pergi, “keluar”, “ke pasar”,
“merantau”, “kerja”. Transportasi air di Sungai Brantas, Jawa Timur Dengan demikian arah hulu lebih bermakna
“perempuan” dan hilir bermakna “lelaki”.
Perempuan adalah hulu adalah rumah adalah kampung
halaman. Lelaki adalah hilir adalah luar adalah asing,
atau rantau. Dengan pola pikir yang demikian itu, munggah dan
mudik maknanya sama, yakni kembali ke ibu, ke
kampung halaman, ke nenek moyang, ke asal adanya,
ya kembali ke fitrahnya. Begitulah kesadaran kolektif
bangsa ini sejak zaman dahulu kala, yakni tidak pernah
melupakan jati dirinya, asal usulnya, nenek moyangnya, kampung halaman tempat ia dilahirkan.
Manusia Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dalam
hubungan munggah dan mudik ini, selalu ingat asal
usulnya, indungnya, sangkan paran atau asal dan
tujuan hidup ini. Mengapa identik dengan Lebaran? Di zaman purba Indonesia ada upacara setiap tahun
yang bermakna manunggal dengan nenek moyang
sebuah komunitas. Sisa-sisa upacara demikian masih
lestari dalam bentuk bersih desa, ngalaksa, seren taun,
ngarot dan banyak lagi. Dalam upacara-upacara semacam itu dilakukan penyatuan manusia sebagai mikrokosmos dengan alam
sebagai makrokosmos dan arwah nenek moyang
berupa mitos-mitos sebagai metakosmos. Rangkaian upacaranya mulai dari mandi bersama
(bersih badan), pantang dan puasa, ziarah kubur, seni
pertunjukan yang mementaskan kisah mitologi nenek
moyang pendiri wilayah, dan akhirnya makan bersama
atau kenduri. Tempatnya bisa di tanah lapang, di balai
desa, di leuwi, di mata air, di kuburan desa. Bersih desa Dalam upacara-upacara tahunan semacam itulah seluruh penduduk kampung kumpul bersama, tua atau
muda atau kanak-kanak. Upacara menyatukan diri seluruh penduduk kampung
dengan makrokosmos dan metakosmos ini, dapat
bermakna sangkan-paran atau kembali menyatu
dengan yang asal. Mereka sedang munggah atau
mudik. Kembali ke indung asal kehidupan ini. Kembali
ke Sang Pencipta dengan seluruh warga yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Ketika agama Islam dipeluk oleh bangsa Indonesia,
maka sisa-sisa ritual primordial ini tidak dilenyapkan
karena sudah merupakan bagian dari arketip
budayanya. Kalau tidak melakukan, mereka merasa
ada yang hilang dari bagian dirinya sebagai kelompok. Padanan untuk itu adalah bulan puasa bagi umat Islam,
atau puncaknya pada hari Lebaran. Tradisi manusia
Indonesia untuk nyekar atau menebar bunga di
kuburan nenek moyang, mandi bersama di pantai atau
di sungai desa, mengirim makanan bagi sanak saudara,
yang semua itu dilakukan sebelum bulan puasa, adalah inkulturisasi Islam terhadap budaya sebelumnya.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India